Sebuah pesan dari film Gravity

Bumi itu 1 dari 9 planet yang mengelilingi matahari.

Matahari adalah 1 dari 11.000 bintang sejenis matahari yang pernah diteropong dengan teropong Kepler. Artinya, sistem tata surya kita, merupakan 1 dari 11.000 kemungkinan tata surya lain di Galaksi Bima Sakti.

Galaksi Bima Sakti, merupakan 1 dari 200 milyar galaksi di alam semesta. Artinya, total seluruh planet di alam semesta yang pernah dihitung kira-kira 10 pangkat 24 biji. 

Dan setelah semua data tadi, kamu masih berpikiran bahwa bumi adalah satu-satunya planet berpenghuni seperti manusia di seluruh alam semesta? Oh come on.

Pemikiran itulah yang selalu terpatri di dalam kepala saya. Betapa kecilnya manusia jika dibandingkan dengan seluruh alam semesta. Betapa sombongnya manusia berusaha menguasai “dunia”. Konyol.

Saya tidak bercita-cita menjadi seorang astronot. Tapi saya ingin sekali ke luar angkasa, melihat bumi dari atas sana. Sekedar melihat bahwa bumi yang kita pijak ini, tak lebih dari sebuah planet biasa di alam semesta. Sekedar merasakan bahwa manusia tak akan mampu survive di luar bumi-nya. Sekedar mensyukuri nikmatnya oksigen yang membuat saya tetap hidup.

gravity_ver4_xlgLalu saya menonton film ini: Gravity.

Dibuka dengan pemandangan yang saya idam-idamkan : bumi dari luar angkasa. Berwarna biru dengan dominasi putih. Terpampang luas dan gagah. Lantas muncul pula pemandangan lainnya, ketika kamera mengarah ke luar bumi : alam semesta. Jutaan bahkan milyaran titik-titik putih di kejauhan, yang semuanya adalah planet dan bintang. Seberkas kabut yang sebenarnya terdiri dari milyaran planet; dan mungkin pula 1 atau 2 planet berkehidupan di dalamnya.

Mata saya dimanjakan dengan pemandangan indah dan obrolan “ringan” antara astronot dengan Houston, pangkalan induknya di bumi. Pemandangan mereka yang melayang-layang tanpa gravitasi.

Tapi lantas masalah mulai menyerang. Rusia menembak satelitnya sendiri, yang berakibat banyaknya serpihan yang melayang di langit. “Serpihan” istilahnya, tapi sebenarnya benda-benda tersebut berukuran lebar dan melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi. Menghantam apapun yang mereka lewati di jalur orbitnya. Termasuk pesawat luar angkasa milik AS ini.

Serpihan dengan kecepatan tinggi meluluhlantahkan seluruh pesawat dan kru, hingga tersisa 2 astronot : Kowalski (George Clooney) dan Ryan (Sandra Bullock). Kowalski merupakan pilot pesawat luar angkasa yang telah bertahun-tahun menjadi astronot. Ia pernah dikhianati istrinya justru ketika ia sedang “dinas” ke luar angkasa.

Tapi film ini tidak bercerita tentang Kowalski, namun tentang Ryan. Ryan adalah seorang ibu single parent yang ditinggal mati oleh anaknya, ketika berumur 4 tahun. Ia mendapat kabar kematian anaknya ketika sedang menyetir. Sejak saat itu, sepulang kerja Ryan selalu menghabiskan waktunya dengan menyetir tanpa tujuan.

Setelah ditinggal Kowalski dalam perjalanan mencari stasiun luar angkasa yang masih selamat, film ini menjadi sangat depresif. Hampir sedepresif film Radit dan Jani. Ryan berusaha sekuat tenaga untuk kembali ke bumi, bagaimanapun caranya. Usaha Ryan digambarkan dengan sangat detail dan dengan alur yang perlahan, membuat saya tegang setengah mati menyaksikannya.

Satu adegan yang sangat membekas di kepala saya, adalah ketika Ryan sudah putus asa di bilik kapal penyelamat mlik China. Tidak ada bahan bakar untuk kembali ke bumi, ia pun memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Oksigen diturunkan, lampu dimatikan, dan ia bersiap mati dalam tidurnya.

Untuk saya, Ryan sudah tidak punya alasan lagi untuk berusaha kembali ke bumi. Ia hidup sendirian. Ia ditinggal mati anaknya. Bahkan ia hidup dalam trauma. Apalagi alasannya untuk bertahan hidup? Cukup lepaskan helm astronotnya ketika ia berada di luar, dan *bum!!*, semua masalahnya selesai.

Tapi ternyata, itulah pesan film ini. Meskipun kamu tidak punya alasan untuk bertahan hidup, mengakhiri hidup bukanlah pilihan.

Film ini bukan tentang astronot yang ditunggu untuk pulang dengan selamat oleh keluarganya di bumi. Film ini bukan tentang alasan orang untuk berusaha hidup. Film ini bukan tentang pengorbanan untuk mempertaruhkan hidup yang indah.

FIlm ini bicara tentang pilihan.

Film ini bicara tentang ketidakadaan alasan.

Film ini bicara tentang hidup.

Dan Ryan memilih untuk bangun, memutuskan untuk menyalakan kembali oksigen di dalam kabin. Ia memilih untuk kembali ke bumi yang telah merenggut kebahagiannya. Ia memutuskan untuk tetap berusaha hidup, meskipun tanpa alasan.

Karena hidup, ada ataupun tanpa alasan, adalah anugerah.

2 thoughts on “Sebuah pesan dari film Gravity

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s