PULANG

Mudik!Malam itu, saya pulang seperti “biasa”-nya di Jumat malam. Kira-kira pukul sepuluh. Hujan sudah lama selesai mengguyur, hanya menyisakan dinginnya angin. Jalanan juga sudah mulai sepi, karena hari itu adalah H minus tiga Idul Fitri 1325 H.

Jalur pulang saya adalah lewat Kalimalang. Berawal dari perempatan bypass di ujung jalan raya Kalimalang, hingga berbelok di perempatan Pangkalan Jati. Jalur ini adalah jalur saya beberapa tahun terakhir, karena lewat Casablanca/Banjir Kanal Timur membuat saya harus berputar agak jauh.

Seperti pengalaman tahun-tahun yang lalu, Kalimalang selalu menjadi jalur utama pemudik motor yang menuju ke Karawang/Cikampek. Jalanan 2 arah dengan masing-masing 2 lajur ini memang menghubungkan Halim (Jakarta Timur) dengan Jalan KH Noer Ali (Bekasi). Dan area rumah saya, Jatiwaringin, berada di tengah-tengahnya.

Kepadatan pemudik sebenarnya sudah saya rasakan sejak malam sebelumnya. Rombongan motor dengan muatan berlebih, mulai memadati jalur langganan saya tersebut. Sebagai “orang lama” di jalur tersebut, klakson motor saya berkali-kali berbunyi demi mengingatkan mereka untuk selalu berada di jalur kiri karena umumnya mereka melaju dengan lambat bersama rombongannya. Kemarin malam itu, tidak ada kemacetan berarti. Hanya ramai lancar, begitu istilah Elshinta.

Maka malam itu pun saya pulang dengan pedenya. Memacu motor di kecepatan 80km/jam sepanjang jalan MT Haryono dan UKI, saya cukup yakin jalur Kalimalang akan ramai lancar seperti hari kemarin. Tapi menjelang bypass, kepadatan kendaraan mulai meningkat. Beberapa rombongan mulai menguasai jalanan, dan saya terpaksa meliuk-liuk di antara mereka.

Tepat pukul 23.00, motor saya memasuki area Kalimalang. Dan gilanya, seluruh jalur telah dikuasai motor. Seluruhnya! 4 jalur yang ada (plus area tanah dan jalan berbatu di kiri dan kanan), semua penuh dengan motor (dan beberapa mobil yang lagi sial). Raungan mesin dan klakson bersahut-sahutan. Beberapa, termasuk saya,  terlihat mencari celah di antara kendaraan, setidaknya untuk dapat maju sedikit demi sedikit.

Tapi percuma. Karena malam itu temanya adalah stuck. Maju sedikitpun tidak. 10 menit dalam kondisi standstill, berada di jalur tengah, tepat di tengah2 ribuan motor pemudik, saya pasrah dan mematikan mesin motor saya dengan geram. Ribuan umpatan sudah memenuhi kepala saya, siap diluncurkan. Perjalanan pulang saya (yang biasanya tenang), malam ini diganggu oleh ribuan penyusup jalur Kalimalang! Brengsek!

Sebuah motor berusaha memepet ke depan. Bannya menyenggol kaki saya. Luapan emosi sudah hampir saya tumpahkan, jika saja ketika saya menoleh ke arah motor tersebut, tidak berisi seorang bapak paruh baya, dengan istri dan anak yang masih balita di antara mereka. Si bapak berkalungkan ransel di bagian depan, sedangkan bagian belakang motornya dipenuhi kardus dan plastik. Tampangnya lusuh, keringat mengucur meskipun malam itu (seharusnya) dingin. Si anak tertidur dalam dekapan ibunya, seakan tidak perduli dengan kekacauan Kalimalang malam itu.

Emosi saya mereda seketika. Terbayang perjalanan yang sudah mereka tempuh untuk sampai di titik kami bersenggolan. Dan seberapa jauh lagi harus mereka jalani demi mencapai tujuan yang sama dengan saya : Pulang.

Di tengah kepadatan jalur Kalimalang malam itu, saya menyadari satu hal : pada saatnya, semua orang pasti ingin pulang. Kembali ke tempat di mana dia merasa tenang dan nyaman. Berkumpul bersama orang yang dicinta. Berbagi rindu setelah sekian lama tak bertemu. Berbagi cerita dengan penuh antusias.

Pulang ke tempat di mana kita seharusnya berada.

Saya mulai tersenyum. Betapa egoisme telah menguasai saya, ternyata. Ribuan orang hanya bisa pulang setahun sekali, sementara saya (bisa) pulang setiap hari. Dan saya keberatan berbagi jalan dengan mereka malam ini? Menyedihkan.

30 menit berlalu, dan akhirnya beberapa orang tampak mengatur jalanan. Pahlawan-pahlawan dadakan mulai muncul di kondisi seperti ini, dan saya mengagumi mereka. Beberapa kendaraan dari jalur berlawanan mulai merangsek maju, dan ratusan bahkan ribuan motor-motor yang awalnya menghalangi jalan sudah bisa diatur. Perlahan tapi pasti, kepadatan mulai terurai.

Mesin motorpun saya nyalakan kembali. Tapi perasaan saya telah berbeda 180 derajat dengan sebelumnya, yaitu ketika saya mematikan mesin motor. Perjalanan pulang saya malam itu terasa begitu istimewa.

Mungkin kami hanya bersinggungan selama 60 menit di Jalan Kalimalang, tapi semoga doa saya menyertai teman-teman pemudik hingga selamat sampai di tujuan. Terimakasih sudah mengajarkan saya sesuatu malam ini.

Selamat Pulang, kawan.

3 thoughts on “PULANG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s