Lari dari Stress

Menurut seorang teman, tingkat stress sebuah kumpulan masyarakat dapat dilihat dari beberapa hal, antara lain : (1) banyaknya acara “fun” yang diselenggarakan, dan (2) rame/nggaknya acara tersebut.

Ia memberi contoh, beberapa acara lari yang diselenggarakan setidaknya tahun ini saja. Ada Jakarta International Run, Mandiri Run, Samsung Series Run, Pocari Sweat Run, Glow Run, Music Run, Color Run, dan acara lainnya. Total, tahun ini saja ada hampir SERATUS event lari di Indonesia. Kalo gak percaya, cek aja di sini : http://dunialari.com/kalender-lomba/kalender-lari-2014/.

Dan percaya gak percaya, hampir semua event tersebut, meskipun mesti bayar ratusan ribu, tetep rame dan membludak.

Okelah, bilang aja ada doorprize yang muahal, ada artis yang ikutan manggung, atau ada hadiah uang tunai untuk finisher pertama, dan itu semua bisa jadi magnet para peserta untuk ikutan daftar. Tapi sebagian besar teman saya yang ikut event-event tersebut, 85% di antaranya akan menjawab: (1) seru-seruan rame-ramean, (2) pengen bisa eksis di path dan instagram, dan (3) cuci mata.

Intinya, cuma segelintir yang bener-bener pengen lari. Sisanya, menurut teman saya tadi, adalah orang-orang yang rutinitas hariannya sudah sedemikian stressfull-nya, sehingga butuh “melarikan diri” di event lari tersebut.

Kalau saya pikir, ada benarnya juga. Linimasa path saya kemarin pagi, sebagian besar berisi foto muka dan baju yang penuh warna-warni setelah teman-teman saya finish di acara Color Run. Bulan-bulan sebelumnya, beberapa teman memposting foto lari malam-malam dengan judul Glow Run.

buavita-dan-the-color-run-jakarta-2014-tularkan-semangat-hidup-sehat

Isi foto-foto tersebut didominasi dengan senyum-senyum mengembang. Atau foto selfie bersama teman-teman sesama “pelari”. Bukan keringat yang bercucuran. Bukan pula senyum sambil menggenggam hadiah kemenangan sebagai seorang finisher.

Lantas saya merenung. Jika teori teman saya tadi memang benar demikian adanya, maka sudah seberapa stresskah teman-teman “pelari” saya tadi?

the-color-runSaya sendiri belum pernah ikut event lari satu kali pun. Bukan, bukan karena ngga pernah stress. Tapi lebih karena pengorbanan yang saya keluarkan senilai ratusan ribu, malah dibalas dengan seragam lari, kewajiban untuk bangun pagi buta, kaki pegel, keringat bercucuran plus kulit gosong. Dan itu, ngga banget.

Uang ratusan ribu tadi, mending jadi 50 mangkok baso, atau 5 cup frappuccino ukuran Grande, atau puluhan potong sushi, atau seminggu full ke angkringan Fatmawati. Untuk ukuran saya, mengalihkan stress dengan makanan jauh lebih menyenangkan ketimbang lari.

Kembali lagi, hidup itu masalah pilihan. Bahkan ketika stres pun kita punya pilihan : pilih makan atau lari?

3 thoughts on “Lari dari Stress

  1. “Untuk ukuran saya, mengalihkan stress dengan makanan jauh lebih menyenangkan ketimbang lari.”

    Yep, ato lanjut tidur cantik di kasur..
    Maan..minggu pagi…kapan lagi punya hari libur..
    Hahaha…

  2. lagi rame tentang bajakjkt, baca blog romeogadungan trus mampir kesini juga ngebahas soal event lari yang happening banget. gue kira ngebahas ini juga, tapi baru ngeh klo ini postingan november, haha.

    daripada bayar mahal cuma untuk update di socmed, mending lari gratis di GBK/Monas, abis keringetan, capek, pulangnya melipir makan bakso yg ga lebih dari 20ribu. Stress ilang dengan lari lalu makan bukan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s