annyeonghaseyo – part 1

Korea.

Siapa sih yang ngga tau Korea. Negaranya Kim Jong Il, nuklir, dan…eh salah ya. Itu Korea Utara.

Maksudnya, Korea Selatan. Negaranya Super Junior, PSY, Sistar, SNSD, Kimchi, Gangnam, dll. Juga terkenal sebagai negara maju yang berhasil menyelenggarakan Piala Dunia bersama Jepang di tahun 2002 lalu. Juga negara yang melegalkan operasi plastik ketika warganya telah berumur 17 tahun.

Jadi ketika ada pengumuman call for paper untuk kegiatan employee exchange di Seoul selama 1 bulan, tanpa pikir panjang saya langung mensubmit paper saya. Program ini sendiri merupakan program pertama kalinya di perusahaan tempat saya bekerja. Biasanya, pengiriman karyawan ke luar negeri hanyalah untuk training atau seminar, dan berkisar antara 3-5 hari kerja.

IMG_20151003_041047Singkat cerita, saya dan 8 kandidat lainnya terpilih untuk menjadi delegasi kantor, untuk “bekerja” di Korea Stock Exchange selama 1 bulan full, di bulan Oktober. Lewat berbagai polemik, drama dan air mata, sampai titik di mana kita pasrah pada berbagai kebijakan perusahaan, akhirnya berangkatlah saya dan 7 delegasi lainnya ke Korea, sedangkan 1 delegasi mendadak batal ikut karena diminta oleh bosnya.

Saya sendiri sebenarnya sudah pernah ditugaskan oleh kantor ke Korea Selatan, yaitu sekitar bulan April 2013 yang lalu. Hanya seminggu, dan tinggal di hotel mewah bintang lima di tengah kota Seoul, sebut saja Lotte. Maklum, saat itu pesertanya adalah jajaran direksi kantor sebelah dan beberapa bos kecil di kantor tersebut.

Maka ekspektasi saya cukup tinggi saat ini. Apalagi, sebulan bukanlah waktu yang sebentar untuk tinggal di tempat yang salah. Perusahaan telah menyiapkan semuanya, mulai dari jadwal penerbangan, tempat tinggal, uang saku, hingga jadwal program magang kami selama satu bulan ke depan.

IMG_20151003_123331Daaan, tibalah kami di sebuah penginapan bernama Stay72. Lokasinya tidak persis di tengah kota, namun tidak jauh dari stasiun MRT Singil. Si Ibu penunggu apartemen ini, ternyata tidak bisa bahasa Inggris sama sekali. Setelah diskusi alot dengan bahasa ala kadarnya, akhirnya kami diizinkan untuk check in meskipun saat itu baru jam 12 siang.

Ternyata, kamarnya kecil banget.

Berisi 2 tempat tidur ukuran single yang ujung bagian kakinya mentok dengan lemari baju, berhimpitan dengan kulkas dan lemari TV, plus kompor dan tempat cuci piring. Lorongnya hanya muat untuk 1 koper ukuran 28″, dan harus agak melompat apabila ingin lewat.

IMG_20151003_181938Pada saat kami datang, kompor eletronik tersebut ternyata belum disetting, dan tidak ada peralatan dapur sama sekali di kamar kami. Ada mesin cuci, namun tidak disediakan deterjen dan pelembut. Ada kamar mandi, tapi hanya ada 3 handuk kecil. Ada aku, tapi ngga ada kamu… (((HALAH)))

Untuk mengobati kekecewaan (dan kelaparan pastinya), kami berdelapan akhirnya memutuskan untuk joget. (((lah)))  Maksudnya, memutuskan untuk pergi cari makan. Di sekeliling gang ini, hanya ada SeVel (iya, sepel si sepen elepen tempat nongkrong ababil gak modal yang cuma bisa beli chitato 1 dikocrotin cheese segambreng dan nongkrong ber-10 selama 2 jam) dan klinik kesehatan. Berhubung saya pernah denger yang namanya Myeongdong, maka teman-teman pun setuju untuk kita hunting makanan di sana.

IMG_20151003_140009Cari makanan halal di Seoul ya susah-susah gampang. Susah karena sebenarnya saya bisa makan apa aja, tapi sayangnya memang cuma saya satu-satunya yang ngga ada masalah dengan makanan. Tujuh teman saya, semuanya tidak boleh makan babi, karena mereka saudaranya, eh karena dilarang oleh agama.

Sampailah kami di suatu restoran penjual ayam galbi (kalo ngga salah) di daerah Myeongdong, dan tanpa babibu kami langsung memesan 4 porsi kecil dan 1 porsi besar seafood. Harus menunggu proses pemasakan yang dilakukan di meja kami sendiri, akhirnya kelaparan sejak pagi terobati dengan rasa makanan yang…..lumayan…

Kami sendiri sudah bisa check in di path (penting banget ya) dan pamer foto-foto di sosial media (penting banget juga ya), karena kami sudah beli kartu sim card prabayar Korea (providernya SK Telecom) melalui online, dan diambil di Bandara Incheon. Cuma 25.500 Won, dan kita dapet masa aktif 30 hari, sejumlah pulsa telpon dan sms, serta 1 gigabyte penggunaan data. Lumayan lah buat watsapan dan line video call.

IMG_20151003_164517Area Myeongdong sendiri sore itu sangat amat padat. Mungkin karena malam minggu dan bulan-bulan ini merupakan bulannya Korea Great Sale, maka berribu-ribu orang tumplek blek di sana. Saya sendiri hanya bisa menikmati sedikit sekali suasana di sana, karena ngantuknya gila-gilaan. Tapi apa daya, 2 rekan kami yang berjenis kelamin perempuan memang luar biasa staminanya, karena mereka malah asyik banget masuk Nature Beauty untuk milih-milih masker yang lagi buy 10 get 10 free.

Dan saya beli juga 20 biji. JYAH.

Anywaaaaay, kami pun memutuskan untuk kembali ke apartemen dan mandi sebentar, untuk kemudian melanjutkan rencana kami untuk menonton Seoul International Fireworks Festival, yang diadakan persis malam nanti. Tapi ternyata perjalanan pulang tidak semudah yang kami bayangkan, karena MRT di Seoul teramat sangat kompleks, dibandingkan dengan MRT di Singapore ataupun di Malaysia. Kalo di Singapore, pindah line MRT paling jauh ya jalan 500 meter. Bahkan ada yang pindah line artinya ya cuma pindah dari sisi kiri ke sisi kanan peron. Tapi di Seoul, pindah jalur MRT bisa berarti jalan 500 meter, naik eskalator tinggi, belok kanan, lanjut jalan 200 meter, turun, naik, dan jalan lagi 150 meter, baru kita sampai di peron line lain.

Fyuuuuhhhh..ngetiknya aja capek…

Rencana kami untuk menonton festival kembang api batal sebatal-batalnya, karena kami ngga tau bahwa acara tersebut mulai jam 7 malam dan selesai menjelang jam 9. Dengan santainya kami mempersiapkan diri, pake jaket, makan mie instan dulu, dan lain-lain, dan kami sampai di MRT sekitar lokasi festival tersebut sekitar jam 8.30 malam.

Wis bubar, wis bubarrrr…

IMG_20151003_213233Akhirnya, karena jumlah pengunjung yang gila-gilaan dan kami tidak mau ambil risiko jadi dendeng balado ala Korea di stasiun MRT, maka kami memutuskan untuk istirahat sambil menikmati street food di daerah tersebut. Terpilihlah sebuah restoran bulgogi di salah satu gang daerah Yeuyido, dan ternyata uenak banget. Sambil menyeruput kopi panas (karena ngga enak kalo minum bir sendirian), daging panggang, nasi panas, dan angin semilir yang dingin buanget.

Berjalan gontai menuju apartemen (halah), di jalan kami banyak menemukan keunikan-keunikan di Seoul. Salah satunya adalah bagaimana perempuan Korea bisa tahan pake rok pendek banget di udara sebegini dinginnya. Sebagai informasi, suhu Seoul di bulan Oktober berkisar 9 – 20 derajat celcius. Jadi rok pendek di suhu segini sama kayak cuma pake kolor berenang pagi-pagi di puncak pass. Mamam.

Saatnya tidur, karena “petualangan” kami justru baru menginjak hari pertama. Semoga semakin banyak rok pendek yang bisa kami lihat besok. ^____^

One thought on “annyeonghaseyo – part 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s