annyeonghaseyo – part 3 – second week

Masuk ke minggu kedua, kami sudah mulai terbiasa dengan udara dingin dan rutinitas harian kami: sarapan bersama ibu “kantin”, jalan kaki ke stasiun MRT Singil, kelas di KRX, makan siang di kafetaria KRX, lalu pulang ke apartemen dan bingung mau ke mana. Ditambah lagi, minggu kedua ini Mas Bayu, rekan seranjang sekamar saya, dikunjungi oleh keluarganya yang jauh-jauh dateng dari Jakarta. Makin bingung lah mau ke mana sayah.

Bicara mengenai ibu “kantin”, pastinya tidak terlepas dari sosok seorang ibu-ibu. Yaeyalah. Maksudnya, ibu-ibu Korea (biasa dipanggil ajumma), biasanya sudah berumur, rambut pendek dan keriting, pake celana training dan jaket parasut. Entah kenapa, hampir semua ajumma di sana ya kayak begitu tampilannya. Tambahan lagi, biasanya mereka ngga ada yang bisa bahasa inggris.

Kejadian lucu ketika seorang rekan saya (sebenernya saya males mengakui bahwa dia rekan saya) yang ditanya oleh si ibu kantin apakah beliau mau dibuatkan roti. Sang rekan (sebut saja Gilboi) yang selama seminggu sebelumnya sangat giat berlatih bahasa Korea melalui aplikasi di henpon Samsungnya, dengan pede menjawab “ne, ne” sambil menggeleng. Sekedar informasi, selai roti di kantin ini rada aneh rasanya, antara manis dan asin, dan si ibu cuma mau kasi selai yang itu doang padahal dia punya selai skippy di lemarinya. Pelit.

Kembali ke si Gilboi yang pedenya setengah dewa tadi sambil bilang “ne”, padahal maksudnya “aniyo” alias “nggak”, maka si Ibu kantin dengan semangat mengoleskan selai aneh tadi ke setangkup roti. Terpaksa makan roti deh si Gilboi, karena dia ga enak sama ibu kantin. Bahahahaha.

Saya agak curiga si Ibu punya KPI yang isinya adalah bahwa dia harus memastikan semua penghuni sarapan dengan kenyang dan seluruh masakan yang dia masak harus habis. Kenapa? Soalnya tiap kali kita lagi males makan dan cuma ngambil seadanya, si Ibu akan dengan semangat menawarkan semua jenis makanan ke kita. Kan KZL.

Anyway, minggu ini kami juga diundang untuk menghadiri sebuah konferensi internasional yang kebetulan diadakan di Seoul, yaitu ETF Conference. Apa itu ETF? ETF itu kependekan dari Exchange Tradeable Fund alias reksadana yang bisa diperdagangkan di bursa. Untuk info lengkapnya, silahkan googling soalnya saya udah janji ngga mau bahas kerjaan di blog ini ah. XD

ETF ConferenceYang seru (dan ternyata sudah lumrah bagi orang Korea) di acara konferensi semacam ini adalah : souvenir. Jadi ada cukup banyak booth di ruangan sebelah ruangan konferensi, yang isinya adalah para manajer investasi dan atau perusahaan sekuritas. Dengan modal selembar kartu nama dan salaman, maka souvenir yang sudah diatur rapi di meja booth mereka akan segera berpindah tangan. Ahey.

Dan hari itu saya pulang dengan sekitar 15 souvenir. Limabelas. Mulai dari power bank gede, power bank kecil, colokan USB, 1 set bolpen dan spidol, pembersih HP, sampai ke lensa fisheye untuk handphone! Modal beut!

IMG_0024Minggu kedua juga saya isi dengan belanja online. Yoih. Belanja di sini memang udah kayak boker, artinya kalo ngga belanja kayaknya perut sakit dan uring-uringan sepanjang hari. Salah satu online market yang paling happening di Korea adalah GMarket.

GMarket ini komplit abeees. Atau sebenernya biasa aja tapi saya aja yang ngga pernah belanja online yah? Plus lagi, harga di online jauh lebih murah daripada di toko fisik. Misalnya CD lagu. Untuk sebuah CD Muse Second Law, di Hottrack harganya bisa 18.900 won alias dua ratus ribu rupiah lebih. Eh pas cek di Gmarket, CD yang sama harganya 14.000 won sajah. Dan ready stock. Dan dikirim dalam 3 hari kerja. Dan bebas ongkos kirim karena pelanggan baru.

Maka mengalirlah CD Bigbang, Muse, dan sepatu Keds ke apartemen. Siaul emang nih GMarket, merusak tatanan keuangan saya yang sedang cekak. :(

Han River

Sungai yang membelah kota Seoul ini bener-bener…apa ya kalimat yang pas…membahana? menakjubkan? megah? Hmm, saya belum menemukan kata-kata yang pas untuk sungai Han. Kebetulan kami berjalan kaki sepulang kelas di KRX, dan sampai di tepi sungai Han menjelang matahari terbenam.

IMG_20151012_174306

Semilir angin dingin terasa di muka saya, tapi ketenangan yang ditawarkan Han River membuat saya ngga mau beranjak. Apalagi hari itu langit sedang bersih-bersihnya, dan mata saya begitu dimanjakan dengan panorama kota Seoul di sebrang sana.

IMG_20151012_174441Ahsek.

Dongdaemun

Ini ga perlu ditanya lagi, emang surganya belanja dan buang-buang duit. Ada sekitar 20 mall (baik mall beneran ataupun mall sejenis ITC) di sekitara Dongdaemun. Tinggal naik MRT line biru dari apartemen, dan turun di stasiun Dongdaemun.

Di sini, semua jenis pakaian ada. Ada 1 gedung khusus pakaian cewek, ada yang campur, malah ada 1 mall sekelas ITC yang isinya cuma penjual kaoskaki dan stocking doang. SATU MALL. JUAL STOCKING. BUSET.

Ada yang istimewa dengan kaos kaki di Korea. Entah kenapa, kaoskaki di sini bagus dan lucu-lucu banget. Mungkin cewek2 Korea seneng pake kaos kaki imut-imut gitu kali yah, mulai dari yang gambar superhero Avengers, personil boyband Korea, sampe karakter Larva dan Brown-nya Line.

Dongdaemun ini kayak pasar 24 jam, yang makin pagi malah makin rame. Kebetulan saya di sana sampai jam 11 malem, dan justru para pedagang baju pinggir jalan baru mulai mengeluarkan barang dagangan. Muacet banget di sekitar sini, karena buanyak banget mobil bongkar muatan di sepanjang jalan.

Cheonggyecheon River

Ini adalah sungai yang dikunjungin Ahok beberapa waktu lalu, dan beliau bercita-cita menjadikan Ciliwung jadi kayak Cheonggyecheon ini. Wuih, keren banget kalo beneran jadi deh.

IMG_20151011_185902Sungai yang adanya di tengah kota Seoul ini, bersih luar biasa. Airnya jernih, pinggirannya sungainya dibuatkan jalanan selebar 4 meter, dan kebetulan pas saya datang ke sana sedang ada pameran seni gitu. Seru banget.

Menjelang malam, berbagai instalasi seni yang dipasang IMG_20151011_190414di tengah sungai mulai menyala warna warni. Ada gajah dari tumpukan besi bekas, ada bangau dari kawat bekas, ada kelinci dari botol bekas, dan lain-lain. Udara dingin sehabis hujan menyebabkan tidak banyak orang berlalu lalang di sana, padahal malam minggu.

Gyeongbokgung Palace

Salah satu dari lima istana yang ada di kota Seoul. Ada sejarahnya katanya, tapi saya ngga terlalu nyimak karena rada ribet bahasanya. Lumayan gampang kalo mau ke sini, cukup naik MRT dengan 1 kali transit ke line 3, turun di stasiun Gyeongbokgung, terus tinggal jalan 2 menit.

IMG_20151011_153549 Yang seru di sini sebenarnya prosesi pergantian penjaga di Gwanghwamun Gate, yaitu gerbang utama dari istana ini. Cuma sayangnya karena saya ngga tau jadwalnya, jadinya kelewatan deh. Sayang banget. Padahal katanya bagus.

Kawasan istana ini emang guede buanget. Masuknya murah, cuma 40IMG_20151011_16130900 won, dan bisa keliling sepuasnya. Ada guide gratis juga. Di kawasan istana juga ada National Museum Folk Korea (atau apalah namanya gitu), sejenis Museum Gajah kalo di Indonesia. Tapi, ya gitu deh, entah kenapa kalo di sana koq kerasanya lebih keren ajah. :(

Weekend kami dihabiskan dengan buang-buang duit mengunjungi Everland dan Nami Island, tapi nanti akan dipost terpisah supaya bisa kompliiiit ceritanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s