D O A

Alkisah seorang bos yang taat beragama, secara rutin berdoa setiap malam. Tak perlu disebutkan apa agamanya, karena ndak penting juga.

Setiap malam, ia berdoa “ya Tuhan, berkatilah para kaum papa dan fakir miskin, berikanlah berkat berkecukupan kepada mereka.” lantas pergi tidur. Esok paginya, sembari sarapan dan memanaskan mobil, tak lupa ia berdoa lagi untuk hari itu. Dengan Honda CRV-nya ia berangkat ke kantor. Isi V-Power. Makan siang di Pacific Place. Menolak tawaran mbak-mbak Greenpeace. Menolak beli tissue di lampu merah. Menembus becek di jalan tanpa peduli tunawisma yang terkena cipratannya. Lalu tiba kembali di rumah, dan berdoa yang sama seperti malam sebelumnya.

“ya Tuhan, berkatilah mereka yang kelaparan, berikanlah mereka makanan yang secukupnya. berkatilah mereka yang tidak punya rumah, agar mereka Kau berikan kehangatan seperti yang kurasakan malam ini. Amin.” dan lalu pergi tidur.

Terdengar familiar ya?

Atau kisah begini :

Menjelang ujian akhir, si Badu yang selama ini santai dalam belajar, tiba-tiba jadi relijius. Tak perlu juga disebutkan apa agamanya, karena ndak penting.

Yang pasti setiap minggu ia rajin ibadah. Lihat jadwal KKR yang ada altarcall-nya, dan ngga lupa bagi-bagi minyak urapan. Duduk paling depan, lari paling kencang, dan selalu kembali ke kursi dengan kepala penuh minyak. Tak lupa juga doa semalam suntuk, mendoakan ujiannya dan masa depannya kelak.

Hingga tiba di hari ujian, ia pun berdoa khusyuk sebelum menerima soal ujian. Dikerjakannya soal ujian dengan percaya diri (meski agak bingung), dan yakin Tuhan akan membimbingnya dalam menjawab pertanyaan. Hasilnya? Badu tidak lulus ujian.

Badu pun marah dan mulai mengutuk Tuhan. Kenapa ia yang telah berdoa mati-matian, malah dibuatNya tidak lulus. Menanggung malu. Jadi bahan omongan keluarga. Badu pun stress.

Agak familiar ya?

Gimana kalo yang ini :

Suatu hari di komplek Kampung Pulo, hujan deras tidak berhenti sejak semalam. Air pun mulai naik ke jalanan, dan si John, salah satu pemilik rumah di sana, mulai memindahkan barangnya.

John adalah salah satu majelis di tempat ibadahnya, sekaligus ketua tim doa. Maka ia tak henti-hentinya berdoa semoga Tuhan menghentikan hujan deras tersebut. Tapi hujan malah semakin deras, dan air sudah mulai masuk ke rumah John, bahkan hingga memenuhi seluruh lantai 1 rumah tersebut.

John mulai merangsek naik ke atas atap rumah, sambil terus berdoa. Tak lama sebuah sekoci datang, dan menawarkan John untuk ikut mengungsi. Tapi John bergeming. Ia yakin Tuhan akan menolongnya. Air semakin tinggi, namun John tetap berdoa. Sekoci kedua dan sekoci ketiga pun ditolaknya, karena ia yakin Tuhan akan mendengar doanya. Akhirnya air menenggelamkan John dan seluruh rumahnya, dan meninggallah John terbawa air.

Di pintu surga, John dengan emosi dan isak tangis mengadu pada Tuhan : “Ya Tuhan, kenapa Kau tidak mendengar doaku? Kenapa masih terus Kau turunkan hujan padaku? Kenapa Kau tidak melihat kesalehanku selama ini?”

Dengan tenang Tuhan menjawab: “Bukankah sudah Kukirim 3 sekoci menyelamatkanmu? Kenapa tidak kau selamatkan dirimu?”


Manusia, termasuk kamu, saya, dan miliaran manusia lainnya di luar sana, memang kadang aneh. Tanpa kita sadari, kadang kita menciptakan “tuhan” yang bisa disuruh-suruh.

“Kasi makan orang lapar..”

“Berkati yang miskin..”

“Buat saya lulus ujian dengan nilai cemerlang..”

“Sembuhkan saya..”

Seakan-akan dengan berdoa maka “tuhan”mu itu akan mengabulkan semua permintaanmu. Lalu marah ketika tidak terkabul. Atau membuat excuse dengan kalimat “biar kehendakMu yang jadi.” Atau “Tuhan punya rencana lain.”

pray1Sejujurnya saya bosan dan muak dengan orang-orang tipe begini. Berdoa untuk orang lain, tapi tidak melakukan apapun untuk yang didoakannya. Berdoa minta lulus, tapi lupa untuk belajar. Berdoa minta pertolongan dan kesembuhan, tanpa mengerti bahwa jawaban doa bisa dalam berbagai bentuk, bukan hanya seperti yang ia inginkan.

Seakan-akan Tuhan bekerja dengan cara klenik, tiba-tiba lingkaran di LJK sudah terisi dengan semua jawaban yang benar. Atau tiba-tiba Tuhan dalam wujud pria berjanggut bermuka Yahudi dan berjubah serta bersinar-sinar, datang dan membawa 5 roti 2 ikan kepada fakir miskin yang kelaparan.

Sayangnya doa bukan untuk itu, setidaknya itulah yang saya pahami. Doa itu bentuk komunikasi dengan penciptamu, setidaknya itulah yang saya percaya. Lebih ekstrim lagi, bagi saya, doa itu bukan bicara ke luar dari dirimu, ke awan-awan, ke langit ke tujuh, ke nirwana atau apapun namanya, tapi justru ke dalam diri sendiri.

Doa itu hening, bukan bicara lantang.

Doa itu ucapan terima kasih, bukan nyuruh-nyuruh.

Lantas, kalau begitu, siapa yang akan “menyelamatkan” dunia dari kemiskinan? Siapa yang akan “membantu” saya lulus ujian?

Kamu dan saya. Kita. Ciptaan yang paling mulia, yang berakal budi dan memiliki otak. Yang punya tangan untuk bergerak menolong. Yang punya hati untuk berbelas kasihan. Yang punya kaki untuk melangkah.

“Dont just PRAY about it. Do SOMETHING about it.”

4 thoughts on “D O A

  1. Gw pikir lu cuma mengunakan sample.yang cuma menguatkan argumen lu aja. Terkadang orang berdoa karena mereka telah menyerah dan pasrah atas semua yang mereka usahakan. Jangan merengek. Ucapam terakhir lu seperti ironi dari ironi

  2. Justru postingan ini belum sampai ke tahap sana, Mas. :)

    Ngga jarang orang yang hanya berdoa tanpa melakukan apapun, tapi pengen dapet apa yang didoakan tadi. Makanya setidaknya saran saya, kita lakukan dulu perannya kita selain berdoa tadi.

    Kalau sudah sampai di tahap pasrah baru berdoa, mungkin sedikit terlambat sih menurut saya. :)

  3. armeeeyyyn, ini boleh gw share ga siiih di semua sosial media yg gw punya? hahahahha. tulisan lo bagus-bagus terus deh. menohok gw. trus gw pengen orang lain tertohok juga hehehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s