Saya paham betapa teknologi telah memudahkan kita dalam berekspresi. Dalam mengutarakan pendapat. Dalam beropini.
Tapi saya masih kurang paham, ketika kita, saya dan kamu, sesama orang dewasa dan (cukup) berpendidikan, ternyata menolak bertanggungjawab atas konsekuensi dari opini yang disampaikan tadi.
Saya masih kurang paham ketika kita, saya dan kamu, menolak berpikir lebih jauh mengenai dampak dari isi opinimu tadi.
Saya masih kurang paham ketika kita, saya dan kamu, begitu mudahnya terjebak dalam perdebatan opini benar salah, menang kalah, atau kafir non kafir.
Saya semakin tidak paham, ketika melihat bahwa bagi beberapa teman saya, dunia hanyalah hitam dan putih. Benar dan salah. Menang dan kalah. Kafir dan non kafir. Surga dan neraka.
Saya semakin tidak paham, ketika bagi sebagian orang, perbedaan sudut pandang adalah sebuah kesalahan. Ketika perbedaan pilihan tidak lagi menjadi bumbu demokrasi, tapi malah menjadi micin yang mematikan.
Apa yang saya pahami, adalah bahwa selalu ada relitivitas di dunia ini.
SELALU.
Bahwa surga seseorang bisa menjadi neraka bagi orang lainnya.
Bahwa kebahagiaan seseorang bisa menjadi kesedihan bagi orang lainnya.
Bahwa semua itu hanya masalah dari mana kita memandang, bukan tentang apa yang kita pandang.
Bahwa selalu ada ketidakpastian di dalam kepastian.
Dan kita, saya dan kamu, tidak perlu mengambil tugas Dia yang menciptakan segalanya.
Tidak perlu menjadi hakim atas nama Nya.
Tidak perlu pula membelaNya.
Cukup percaya saja.
Apa sih susahnya?

Leave a Reply