My Mind

RELATIF

Saya paham betapa teknologi telah memudahkan kita dalam berekspresi. Dalam mengutarakan pendapat. Dalam beropini.

Tapi saya masih kurang paham, ketika kita, saya dan kamu, sesama orang dewasa dan (cukup) berpendidikan, ternyata menolak bertanggungjawab atas konsekuensi dari opini yang disampaikan tadi.

Saya masih kurang paham ketika kita, saya dan kamu, menolak berpikir lebih jauh mengenai dampak dari isi opinimu tadi.

Saya masih kurang paham ketika kita, saya dan kamu, begitu mudahnya terjebak dalam perdebatan opini benar salah, menang kalah, atau kafir non kafir.

Saya semakin tidak paham, ketika melihat bahwa bagi beberapa teman saya, dunia hanyalah hitam dan putih. Benar dan salah. Menang dan kalah. Kafir dan non kafir. Surga dan neraka.

Saya semakin tidak paham, ketika bagi sebagian orang, perbedaan sudut pandang adalah sebuah kesalahan. Ketika perbedaan pilihan tidak lagi menjadi bumbu demokrasi, tapi malah menjadi micin yang mematikan.

Apa yang saya pahami, adalah bahwa selalu ada relitivitas di dunia ini.

SELALU.

Bahwa surga seseorang bisa menjadi neraka bagi orang lainnya.
Bahwa kebahagiaan seseorang bisa menjadi kesedihan bagi orang lainnya.
Bahwa semua itu hanya masalah dari mana kita memandang, bukan tentang apa yang kita pandang.
Bahwa selalu ada ketidakpastian di dalam kepastian.

Dan kita, saya dan kamu, tidak perlu mengambil tugas Dia yang menciptakan segalanya.
Tidak perlu menjadi hakim atas nama Nya.
Tidak perlu pula membelaNya.
Cukup percaya saja.

Apa sih susahnya?

Advertisements

5 thoughts on “RELATIF”

  1. Relativitas mengandung ketidakpastian, sementara beberapa hal sdh mengandung kepastian
    Saya memiliki konsep yang berbeda tentang pembelaan… Dia tidak perlu dibela, kitalah yang perlu menunjukkan kalo kita membelaNya.

  2. Lantas apa dampaknya ya kalo kita sudah menunjukkan bahwa kita membelaNya? Saya masih ngga paham di bagian itu dalam hal bela membela ini. Hehehe..

    Bagi saya, semuanya mengandung relativitas, yang artinya tidak ada yang pasti. Imanmu, itu yang menyelamatkanmu, begitu katanya di agama saya. Tapi apa pasti? Yang ada kita sekedar mempercayai itu, dan berharap apa yang kita percayai itu pasti benar.

    Apakah pasti benar? Ngga ada yang tau kecuali Dia.

  3. ketika peduli kepada seseorang..tidak cukup hanya dengan mengatakan saya peduli..harus ada perbuatan untuk menunjukkan qta peduli…jika hanya mengatakan “sy peduli” kemudian berlalu sj tanpa perbuatan..tidak bisa disebut dipeduli.

  4. itu konsep dgn manusia.. klo percaya dgn sesuatu yg tak terlihat, knp harus ragu untuk menunjukkan kepercayaan itu..

  5. Nah, perbuatan “peduli” ini yang sepertinya tafsirnya beda2 yah. CMIIW.

    Ketika seseorang dihina, ada 2 reaksi “peduli” menurut saya:
    1. menyerang mereka yang menghina
    2. menghibur mereka yang dihina.

    Saya prefer nomor 2. :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s