Gadis Jeruk,, by Jostein Gaarder,,

Pengarang “Dunia Shopie” ini kembali berusaha menceritakan pemikiran-pemikiran filsafatnya kepada pembaca. Lagi-lagi, sama seperti “Dunia Shopie”, Joastin menggunakan media surat sebagai inti dari ceritanya. Seorang anak berusia 15 tahun, menemukan sebuah surat yang telah ditulis oleh ayahnya ketika hampir meninggal. Setelah 11 tahun tersimpan, ibunya dan suami barunya menyerahkan surat itu untuk dibaca anaknya.

Surat itu menceritakan kisah sang Ayah ketika masih kuliah, dan bertemu dengan seorang gadis berwajah Spanyol yang membawa sekantung penuh jeruk. Sejak itu, sang ayah selalu berusaha mencari kembali sang gadis jeruk, bahkan hingga ke Spanyol. Joastin berusaha menyelipkan pemikiran filsafatnya tentang alam semesta melalui penempatan waktu atau timing yang disesuaikan dengan peluncuran Teleskop Hubble ke luar angkasa, yang menyatakan bahwa Teleskop Hubble merupakan mata semesta yang memungkinkan kita dapat melihat terjadinya awal galaksi kita di galaksi lain yang jaraknya sangat jauh.

Di akhir surat, setelah anak berumur 15 tahun itu mengetahui bahwa sebenarnya si gadis jeruk adalah ibunya sekarang, ayahnya bertanya padanya, “Bagaimana jika kita kembali ke jutaan tahun yang lalu, ketika kau ditanya apakah kau mau menjalani hidup di bumi yang hanya sebentar namun mau tidak mau kau harus pergi dari bumi pada akhirnya, atau tidak perlu ke bumi sama sekali? Apakah yang akan kau pilih?” Harry yang berusia 15 tahun berusaha menjawab pertanyaan ayahnya, lewat pemikiran-pemikirannya yang mungkin bagi saya agak terlalu dewasa untuk anak seumurannya. Namun, ia dapat memberikan jawaban yang sangat dewasa dan menjadi inti dari cerita ini.

Membaca buku ini, membuat saya mau tidak mau juga jadi terpikir akan hal tersebut. Sebuah kenyataan yang sebenarnya benar-benar penting, karena jika pada jutaan tahun yang lalu ketika kita dihadapkan pada pilhan sulit tersebut dan kita memilih untuk tidak datang ke bumi, maka kita tidak akan ada di sini saat ini. Sedangkan jika akhirnya kita memilih untuk datang ke bumi, dengan konsekuensi bahwa suatu saat nanti kita harus kembali ke kekekalan, maka kita harus menyiapkan diri kita dan berusaha yang terbaik dalam hidup kita yang singkat.

Itulah yang berusaha disampaikan oleh penulis, yaitu bahwa hidup kita sebenarnya sangatlah singkat, jadi marilah kita isi dengan hal-hal yang positif.

One thought on “Gadis Jeruk,, by Jostein Gaarder,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s