let’s talk about music

Tidak banyak postingan saya mengenai musik. Dan kali ini, ada beberapa album lokal dan interlokal yang rasanya memaksa saya untuk menulis tentang mereka. Bukan hanya karena musik mereka berkualitas (karena tidak ada musik yang jelek – refer to my previous post), tapi karena mereka memang cocok di telinga saya saja. Beneran cuma karena itu koq. :)

Sejujurnya, saya bukan pakar musik. Atau tahu banyak tentang musik. Nge-band pun cuma waktu SMA, dan itu pun genre-nya religius (yes, i’m nerd!). Selepas kuliah, berbekal akun premium rapidshare bajakan dan blog band-band yang jarang kedengeran di kuping, jadilah saya mendownload begitu banyak band, penyanyi solo, ataupun duet yang berseliweran di sana. Dan saya, tipe pendengar yang baik. Maksudnya, semua jenis musik bisa masuk kuping saya dengan mudahnya.

Tapi, setelah punya penghasilan sendiri, rasanya malu untuk mendownload atau copy lagu-lagu milik band lokal. Selain karena berusaha mengkampanyekan gerakan “say no to piracy“, tapi juga karena harga CD mereka rata-rata terjangkau oleh kantong. Dan inilah beberapa album favorit saya (setidaknya saat ini, tidak sepanjang masa, karena ada banyak album yg mungkin terlupa).

1. Monkey to Millionaire – Lantai Merah

Ahhh, musik mereka yang menghentak, betul-betul menambah semangat ketika tidak ada mood-booster di luar sana. Lirik yang juga lugas dan tegas, menambah kesan “runcing” pada lagu-lagu mereka. Sudah sejak lama melihat album mereka yang berwarna merah di rak-rak Aksara, tapi tidak tergerak sedikitpun untuk membeli. Baru setelah mendapatkan rekomendasi dari Dina (yang beberapa bulan lamanya memasang status “Strange is the Song on Our Conversation” tanpa saya mengerti maknanya), barulah saya tergerak membeli album tersebut.

Lagu favorit saya jatuh pada 2 lagu “keras” dan 1 lagu “slow” dalam album tersebut, yakni “Fakta dan Cinta”, “Satu Nama” dan tentunya : “Strange is the Song on Our Conversation”. Hentakan drum membabi-buta, plus bass tak manusiawi, serta bunyi distorsi gitar meraung-raung, ternyata sangat cocok di telinga saya. Heran! Kolaborasi yang dilakukan di lagu “Strange” (mari kita singkat judul lagu tersebut yah!) terasa sangat sempurna, di mana suara lembut sang vokalis wanita mampu mengimbangi suara sang vokalis pria. Lagu cinta sebenarnya, tapi tidak dibawakan dengan mendayu-dayu dan melambai. Salute!

2. She and Him – Volume One dan Volume Two

Sebuah duet yang super-duper menarik! Bukan hanya dari sisi wajah (karena saya sudah jatuh cinta ketika melihat Zooey di film Yes Man), tapi dari sisi musikalitas. Genre yang diambil bukanlah genre yang umum, melainkan “jadul”, tapi dengan pembawaan suara Zooey yang “hampir” jelek, justru menambah kesan “dramatis” pada lagu-lagu mereka.

Di album Volume One, saya sungguh terpukau dengan M Ward sang gitaris yang mampu menjalankan tugasnya untuk meng-komplit-kan sebuah lagu, terutama di lagu “Change is Hard”. Hampir semua lagu di album ini merupakan favorit saya! Tapi at the top of my list, “You Really Gotta Hold on Me” tampaknya tidak berlebihan. Kesan suram yang muncul, justru menjadi nilai plus plus untuk lagu remake ini. Bukan hanya gitar yang bermain di sini, tapi mereka sepertinya memainkan lagu ini dengan sepenuh hati! Wuih!

Album kedua mereka, Volume Two, juga tidak kalah luar biasa. Lagu-lagu mereka masih didominasi dengan lirik suram tapi pembawaan ceria, seperti di lagu “In The Sun” dan “Thieves”. Lirik yang “misterius” juga muncul di lagu favorit saya, “Brand New Shoes“. Meski saya masih tidak paham maksud idiom tersebut, namun saya merasa ada makna mendalam di lagu tersebut.

Perasaan yang sama muncul juga di lagu “Lingering Still” yang didominasi suara ukulele (kalo saya ngga salah). M Ward lagi-lagi menjalankan tugas dengan sempurna untuk membuat lagu ini menjadi terdengar sangat menarik. Saya pun masih belum paham dengan genre musik yang mereka bawakan, tapi apapun genrenya, jika terasa nyaman di kuping, kenapa tidak? :)

3. Adhitia Sofyan – Quiet Down

Pertama mendengar lagu “Adelaide Sky”, saya mengira bahwa lagu ini merupakan single milik penyanyi Australia, sama seperti ketika mendengar lagu Lenka yang “The Show”. Ternyata, pemiliknya adalah seorang Indonesia asli! Wow. Sesuai pengakuan beliau, dia memang spesialis lagu galau. :D

Lirik unik di lagu “Memilihmu” awalnya terasa agak janggal, apalagi setelah mendengar lagu lainnya yang didominasi bahasa inggris. Namun, dengan komposisi musik yang terasa sempurna untuk didengarkan ketika hujan (seperti tercetak di albumnya), lagu ini pun seperti merasuk ke dalam telinga saya dengan tenangnya.

Lagu favorit saya jatuh pada “Invisible” yang katanya berkiblat pada King of Convenience. Ya, tidak bisa disanggah, banyak kemiripan lagu ini dengan lagu-lagu KOC, tapi saya yakin, beliau menciptakannya hanya karena tersugesti oleh KOC. Didengarkan sambil hujan dan minum coklat hangat di depan jendela, sungguh merupakan sebuah komposisi yang sempurna. Perfect!

4. Miike Snow – Animal

Band Swedia yang baru-baru ini saja saya lihat albumnya di Aksara, ternyata memiliki genre yang sungguh unik. Agak terpengaruh setelah mendengarkan Jens Lekman, maka saya coba googling band Swedia lainnya. Dan saya juga baru tau, bahwa Roxette, Ace of Base, dan The Cardigans jg merupakan band dari Swedia! Wow.

Mendengarkan lagu andalan mereka, “Animal“, sungguh membangkitkan semangat! Dengan lirik sedikit sarkas, “I change shapes just to hide in this place, but I’m still, I’m still an animal“, justru membuat saya penasaran dengan makna lagu tersebut. Lagu lainnya, meskipun saya tidak sempat mengartikan satu per satu, namun secara overall, album ini layak untuk didownload (dan belum layak di kantong untuk dibeli! haha!).

Sepertinya, band ini terpengaruh dari Jamiroquai dalam hal pemilihan genre, yakni genre elektronik-disco. Lagu dengan beat disko seperti “Cult Logic”, mampu membuat saya bergoyang. Namun di lagu selanjutnya, “Faker” yang didominasi oleh piano dan suara sang vokalis, mampu membawa saya masuk ke dalam musik suram Miike Snow. Amazing!

5. in7days – Fantasy

Sungguh sebuah perjuangan mencari referensi mengenai band ini. Berhubung link myspace tidak dapat dibuka di kantor, maka saya hanya menebak-nebak saja apa isi halaman myspace mereka. :D Dan inilah band “teranyar” yang saya temukan CDnya di tumpukan CD-CD band Indonesia lainnya. Meminta mbak-mbak penjaga toko untuk memutarkannya, saya langsung jatuh cinta sejak pertama mendengar. Alunan melodi gitar, biola, dan suara vokalis yang lembut, betul-betul cocok dengan judul album mereka : Fantasy.

Lagu “Berhentilah Hujan” dan “I..U..Me” betul-betul menunjukkan kekuatan musikalitas mereka. Komposisi melodi gitar dan alunan alat musik lainnya, terasa “ramai” di telinga saya. Ramai tapi harmonis. Wow. Lirik yang sederhana tapi imajinatif, seperti “Berhentilah hujan, supaya ku dapat terbang..“, membawa saya seakan terbang dan melayang bersama musik mereka. Coba dengarkan lagu “The March Of Life” sambil menutup mata, maka anda akan terbayang cover album Sigur Ros yang ada lagu Gobledigook-nya! :D

One thought on “let’s talk about music

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s